"TAK CUKUP HANYA CINTA"
"Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah pertanyaan tiba-tiba
mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir
Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha
tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin
datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama
yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan
majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami
masing-membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji
seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena
sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.
"Kebetulan
Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri",
jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan
sandal-sendal yang lain. "Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian
bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri
majelis-majelis taklim", raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah
seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin
lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga
karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan
rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak
orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran
dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah
belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari
pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan
termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6
tahun lamanya.
"Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo
kita ngobrol-ngobrol dulu", tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. " Nggak
papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama
nggak ngobrol-ngobrol", jawabku sambil menuju salah satu bangku di
halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang
pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah
tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama
makin hambar dan kehilangan arah.
"Aku dan mas Bimo kenal sejak
kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum
memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang
biasa-biasa saja dalam hal agama", mbak Artha mulai bertutur. "Bahkan,
boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa
yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup
berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak
meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami
jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang
sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku,
Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak
bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada
pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan
syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan
mas Bimo untuk menikah".
"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui
shalat istikharah?", tanyaku penasaran. "Itulah dhek, mungkin aku ini
hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali
tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu
semua memang akibat perbuatanku sendiri"
"Pentingnya ilmu
tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah
baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade
diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat
memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah
mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting
menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari
bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek,
aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan
ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik", papar mbak Artha
sambil tersenyum getir.
Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir
ini pengalaman yang menarik. Rasa penasaran dan sedikit nggak percaya
karena Mbak Artha yang aku kenal sekarang adalah tipikal wanita
sholehah, berhijab rapi, tutur kata lembut, tilawahnya bagus dan
smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari profil yang di ceritakan
tadi. Ternyata benar kata pepatah, bahwa pengalaman adalah guru yang
paling berharga. Mungkin bertolak dari minimnya pengetahuan agama,
akhirnya mbak Artha berusaha keras untuk meng-up grade diri. Dan
subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan. Mbak Artha mekar laksana
bunga yang sedang tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata
indahnya bunga itu tak lain karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi
pupuk disepanjang kehidupannya.
Rupanya harapan mbak Artha untuk
bisa menimba ilmu agama bersama-sama sang suami tinggal impian. Mas Bimo
yang diharapkan bisa menjadi katalisator dan penyemangat ternyata hanya
jalan ditempat. Hapalan Juz Amma nya belum bertambah, tilawah Al
Qur'an-nya masih belum ada perbaikan masih belum lancar. Sementara
kesibukannya sebagai Brand Manager di salah satu perusahaan Telco milik
asing, makin menyita waktu dan perhatiannya. Masih syukur bisa
mengahabiskan weekend bersama Mbak Artha dan Raihan anak semata wayang
mereka, kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor atau meeting dan
lain-lain. Tidak ada waktu untuk menghadiri majelis taklim, tadarus
bersama bahkan sholat berjama’ah pun nyaris tidak pernah mereka lakukan.
Aku
jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang ustad
berkata "Rumah tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat berjam’ah
antara anggota keluarga serta sering dikumandangkan ayat-ayat Allloh
akan didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya"
"Dhek....", suara
mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Iya mbak, saya masih denger kok. Saya
hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang amal buat mbak Artha",
jawabku sigap supaya nggak terlihat kalau emang lagi ngelamun.
"Pada
awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap Mas Bimo juga
memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam pengetahuan
kami terhadap Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo menyambut
ajakanku untuk sama-sama belajar. Namun dalam perjalanannya, smangat
yang kami miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat miris
hati ini ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi imam dalam sholat
magrib. Bacaan suratnya masih yang itu-itu juga dan masih
terbata-bata.Aku baru tau bahwa dia belum pernah khatam Qur’an. Harusnya
kan suami itu imam dalam keluarga ya dhek?", mata mbak Artha mulai
berkaca-kaca.
"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku?
Bukankah harusnya suami itu adalah Qowwam, pemimpin bagi istrinya. Lalu
bagaimana jika sang pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup untuk
menjadi seorang pemimpin?", suara mbak Artha mulai bergetar.
"Terkadang
aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua nggak mungkin
terjadi selama suamiku tidak mau belajar lagi membaca Al-qur'an. Aku
juga merindukan sholat berjama’ah dimana suami menjadi imannya sementara
kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini berlebihan
dhek?", tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.
"Berbagai
cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki diri
terutama dalam hal ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati supaya tidak
menyinggung perasaannya dan supaya tidak berkesan menggurui. Aku mulai
rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga untuk
sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah qur’an setelah sholat
subuh. Bahkan berusaha bangun malam menunaikan tahajud serta menjalankan
sholat dhuha dipagi hari. Semuanya itu kulakukan, dengan harapan mas
Bimo pun akan menirunya. Aku berharap sekali dia terpacu dan semangat,
melihat istrinya bersemangat", papar mbak Artha dengan suara yang agak
tinggi.
"Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil.
Aku seperti orang yang berjalan sendirian. Tertatih, jatuh bangun
berusaha menggapai cinta Alloh. Aku butuh orang yang bisa membimbingku
menuju surga. Dan harusnya orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"
Kurangkul
pundaknya, sambil berbisik "sabar ya mbak, mudah-mudahan semuai
harapanmu akan segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang dan mulai
melanjutkan ceritanya.
"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari cukup, overall Mas
Bimo suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera rumah tangga kami
belum pernah diterpa badai besar, semuanya berjalan lancar. Sampai
disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera kami telah
kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus kehidupan yang
smakin lama smakin membawa kami kearah yang tidak jelas. Kami sibuk
dengan aktifitas kami masing-masing. Kehangatan, kemesraan, ungkapan
sayang yang dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo sedikit demi sedikit
terkikis di telan waktu dan kesibukannya. Dan yang lebih parahnya lagi,
unsur religi sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo sebagai kepala
keluarga. Fungsi qowam sebagai pemimpin dalam menggapai cinta hakiki
dari Sang Pemilik Cinta, terabaikan. Mungkin karena memang bekalnya yang
kurang. Sunguh, harapan menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah
semakin hari kian jauh dari pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh
dan kering", suara mbak Artha mulai bergetar kembali.
Aku jadi
speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata ketenangan rumah
tangga mbak Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa membakar
hangus semuanya. Hanya karena satu hal, yaitu alpanya sentuhan spritual
dalam berumahtangga. Atau mungkin juga adanya ketidaksamaan visi atau
tujuan saat awal menikah dulu. Bukankan tujuan kita menikah adalah
ibadah untuk menyempurnakan setengah agama. Idealnya, setelah menikah
keimanan, ibadah kita makin meningkat. Karena ada suami yang akan
menjadi murobbi atau mentor bagi istri, atau kalaupun sebaliknya jika
istri yang lebih berilmu tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor
bagi suami. Yang penting tujuan menyempurnakan dien guna menggapai
sakinah dan mawaddah melalui cinta dan rahmah makin hari makin terwujud.
Mungkin itulah sebabnya mengapa kreteria agama lebih diutamakan
daripada fisik, harta dan keturunan.
Ternyata cinta saja tak
cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta. Pernikahan merupakan
hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan dengan sangat
hati-hati, penuh kepedulian dan saling mengisi.Bahkan puncak kenikmatan
sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan fisik saja
melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan adalah
sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk mempelajari karakter
pasangan ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing.
"Dhek
Lia....", Mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Makasih ya dhek dah mau
jadi kuping buat mbak", mbak Artha menggenggam tanganku sambil
tersenyum. "Mbak yakin dhek Lia bisa dipercaya, do'akan supaya mbak
diberikan jalan yang terbaik sama Alloh".
Aku pun tersenyum,
"Insyaalloh mbak, makasih juga dah mau sharing masalah ini dengan saya.
Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita mbak. Saya masih harus
banyak belajar soal kehidupan berumah tangga mbak. Jazakillah".
Tak
terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan dhuhur,
mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk sholat
dhuhur berja'maah kusempatkam mengirim sms ke mas Adi. "Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet pulang ya Mas. Uhibbukafillahi Ta'ala"
"Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana"
Aku
memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret
2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga
kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat
dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan.
Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan
masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan
pelik.
Ulang
tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi.
Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku
menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah
membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak
apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi
ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen
rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak
mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin
mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik
napas panjang.
Heran,
apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku
mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak
ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada
momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah
muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan
aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan
kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa
mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim
pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku
cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian
dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi,
masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah
mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal
titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan.
Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung
waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun
perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami
sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa
kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang
sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk
di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam
keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah,
beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya,
hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin
berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan.
Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali
baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini.
Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa
perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen,
kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku
heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis
yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya
bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya,
hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja,
kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum
saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima
lamaranku lewat Diah.
”Kamu
kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku
sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi,
apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku
yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik.
Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu
pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti
layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi,
semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan
segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu
yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya
dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk
memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk
bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu.
Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas
smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut
perhatian suamiku.
Aku
langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku
saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa
Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa
basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia
selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau
awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku
berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum
mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah
Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi
terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras.
Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan
hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak
orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku
terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu
keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa.
Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan
istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya
perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku
membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya,
selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir
tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku
dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan
memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin
beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan?
Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita
denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di
kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan
menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya
yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen,
kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan
yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…”
Ibu berkata tenang.
Aku
memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku
kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk
Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh
dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang
mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian
tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan,
rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan
waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari
agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya
dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini.
Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia
bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya?
Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku
segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah
dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak
memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan
malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan
rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang.
Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima
smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku
terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding,
jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di
sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’
tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar